Menstruasi Pertama

Posted on

Masih ingat nggak saat-saat menstruasi (haid) pertama kita? Aku masih ingat saat datangnya haid pertamaku, saat itu sedang liburan mau naik ke kelas 6 SD. Aku tidak tau kalau saat itu sedang datang haid pertama, memang ada sedikit bercak cokelat di celana dalam, dan kukira itu bercak BAB. Nah saat baca buku di kamar, kebetulan mama melihat dan langsung membawaku ke kamar mandi. Saat itulah baru aku tau yang namanya haid karena sebelumnya mama tidak pernah membahas sama sekali tentang ini. Rasanya memakai pembalut untuk pertama kalinya itu tidak enak banget, terasa ada yang mengganjal, jadi nggak enak buat jalan hahaha. Tapi setelah sekian lama ya akhirnya terbiasa juga. Untunglah saat itu aku sedang libur kenaikan kelas, jadi tidak mendapat haid pertama di sekolah.

Menyiapkan Menstruasi Pertama

Anak-anakku sudah kuberitahu sejak mereka duduk di kelas 4 SD, tentu dengan bahasa yang sederhana saja, yang penting mereka tidak kaget saat mendapatkan haid pertamanya. Di sekolah juga diberikan pendidikan seks, tapi untuk kelas 6 semester akhir dan saat SMP juga.

Ekspresi menstruasi pertama. Sumber gambar: http://orang-cerdas.blogspot.com/2013/02/bagaimana-pola-makan-saat-menstruasi_1080.html

Ada seorang teman yang bercerita kalau keponakannya itu nangis-nangis terus saat mendapat haid pertama, mungkin belum mengerti karena tidak ada yang menjelaskan sebelumnya, jadinya si anak takut saat ada darah keluar dari vaginanya.

Aku dan kedua putriku sepertinya mirip saat haid pertama sekitar umur 12 tahun kurang dikit.

Putri pertamaku yang sekarang sudah kelas 9, mendapatkan haid pertamanya di sekolah. Pulang dari sekolah dia lari-lari menemuiku.

“Ma, aku sudah mens lho.”

“Di sekolah? Terus kamu tidak minta pembalut di UKS?”

“Nggak, taunya pas istirahat kedua, kan sudah mau pulang.”

Untungnya masih sedikit haidnya, jadi tidak sampai tembus ke rok sekolahnya.

Dan sepuluh hari yang lalu, giliran putri bungsuku yang sekarang kelas 6 SD mendapat haid pertamanya. Anak-anakku sudah bertambah besar sekarang. Ah mamanya ini jadi semakin merasa tambah tuwir aja hahaha.

Sebenarnya pagi saat mandi, sebelum berangkat sekolah dia sudah mendapat haid pertamanya, cuma sama seperti aku dulu, dipikirnya itu BAB, jadilah dia cuma ganti celana dalam saja. Nah setelah mandi sore itulah dia menarikku ke dalam kamar.

“Ma, apa ini mens ya?”

“Coba Mama liat. Iya ini mens, baru dapat?”

“Sudah tadi pagi sih.”

“Kok nggak bilang Mama.”

“Iya, kirain kan BAB itu, soalnya warnanya agak cokelat.”

“Untung cuma sedikit. Ayo ganti celana, ini pakai pembalutnya.”

Semua yang memakai pembalut untuk pertama kali pasti akan merasa aneh ya. Putriku juga seperti itu, nggak enak, mengganjal katanya. Eh jalannya malah jadi seperti robot hahaha. Besoknya aku beli pembalut yang lebih tipis bergambar hello kitty *ini bukan iklan lho 😀 biar lebih nyaman dipakai, syukurlah cocok sama putriku.

Pengalaman putri sulungku dulu, saat awal-awal, siklus haidnya nggak teratur. Terkadang satu bulan bisa 2 kali, jadi baru selesai 4 hari kemudian sudah haid lagi. Terkadang 40 hari baru haid. Sempat kuatir juga sih, kok seperti itu ya. Nah, di salah satu buku yang kubaca, ternyata memang untuk haid pertama bisa tidak teratur, dan akan normal 1 sampai 2 tahun kemudian. Lega jadinya, dan memang benar nggak sampai setahun, akhirnya menstruasi putri sulungku berjalan normal sampai sekarang. Entah dengan putri bungsuku ini, kan baru sepuluh hari berjalan.

Aku usahakan sih mereka bisa istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi biar nggak gampang sakit. Pengalamanku saat sekolah terutama SMA, kalau sedang haid, biasanya kepala pusing, sakit perut hebat dan sering mau pingsan. Tapi aku usahakan tidak minum obat karena takut ada efek samping misal tidak bisa melahirkan dll *ih kenapa aku dulu kok bisa kepikiran seperti itu ya? Nah kalau sudah nggak kuat sekali barulah aku minum obat yang buat haid itu. Dulu, aku nggak suka minum jamu selain sinom.

Kalau sekarang, aku nggak pernah sampe mau pingsan lagi, paling-paling pusing atau nyeri sedikit saja. Dan kalau kebetulan liat mbok jamu lewat, aku suka beli kunir asamnya, seukuran botol aqua yang tanggung 5000 rupiah. Tapi memang lain rasanya dengan jamu kunir asam yang sachet, punya mbok jamu ini lebih mantap.

Anak-anakku nggak ada yang mau kalau diminta minum jamu, yah semoga saja mereka tidak nyeri hebat sepertiku dulu, ntar mamanya yang bingung 😀

Kalau emak bagaimana pengalaman saat haid pertama putrinya? Share dong 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *